Home » Opini

Saatnya bertanggung jawab

25 November 2009 44 Comments
Saatnya bertanggung jawab
Kantor kakak saya sempat dikagetkan dengan jawaban pintar seorang calon pegawai barunya. Jadi si orang dimaksud ini melamar posisi yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Pertanyaan pun muncul dari pihak kantor mengenai alasannya untuk tidak bekerja sesuai bidangnya.
Penanya: “kenapa kamu memilih untuk tidak bekerja di bidang pendidikan kamu?”
Calon pegawai: “Saya itu sebenarnya bisa dibilang salah mengambil jurusan, karena ketika sudah mulai kuliah saya baru menyadari bahawa saya tidak cocok di bidang kuliah saya itu, makanya setelah lulus saya mencoba mengikuti passion saya lagi!”
Penanya: “Kalau memang dulu salah ambil jurusan kenapa tidak berhenti saja dari awal dan ganti jurusan?”
Calon pegawai: “Dulu ketika masuk kuliah itu, saya lah yang memilih jurusannya. Dan sebagai orang dewasa saya harus belajar bertanggung jawab untuk menyelesaikan apa yang sudah saya pilih. Sambil terus belajar hal yang menarik minat saya!
Nah tuh dia tuh jawaban yang menarik. Saya sendiri kepikiran untuk nyontek jawaban itu kalau suatu saat nanti di wawancara kerja dengan pertanyaan itu lagi. Bertanggung jawab terhadap apa yang sudah kita pilih! Begitu pernyataan besarnya!
Rasanya memang sulit untuk tetap pada satu hal yang sudah kita pilih dan ternyata tidak mengenakan. Lebih mudah rasanya kalau kita langsung meninggalkan pilihan kita di detik itu juga dan beralih ke pilihan yang lain. Lihat saja contoh yang muncul belakangan ini ketika kita (termasuk saya) tidak puas dengan pemerintahan yang sekarang. Mulai ramai lagi aksi-aksi yang ingin segera mengganti.
“Bisa jadi ini seratus hari terakhirnya!” kata salah satu pengamat di televisi.
Sekali lagi, memang mudah untuk memalingkan muka! Tapi berusaha menghadapi pilihan yang salah itu perkara lain. Toh yang dimaksud di atas itu terpilih dari hasil pemilihan yang legitimate (walaupun unsure legitimate ini masih bisa dipertanyakan, tapi secara garis besar masih bisa ditoleransi). Lah yang milih elo juga koq, kenapa sekarang protes? Sudah terima saja, hadapai, kritisi, luruskan, dan ketika saatnya tiba jangan mengulangi kesalahan yang sama.
Tapi dulu saya ndak milih yang itu! Kata sebagian orang. Memang situ memilih yang lain, tapi kalah khan? Kenapa bisa kalah? Kekalahan pilihan kalian menjadikannya terpilih kembali. Ini berarti sama saja, “pilihan kalian untuk kalah lah” yang membentuk kondisi sekarang. Secara tidak langsung konsekuensi kekalahan itu merupakan pilihan. Sudah terima saja, hadapai, kritisi, luruskan, dan ketika saatnya tiba jangan mengulangi kesalahan yang sama.
Lah saya mah waktu itu memang gak milih (kalau yang ini alasan saya pribadi)! Sama saja! Dulu waktu disuruh milih saya dengan lantang teriak bahwa “tidak memilih juga sebuah pilihan”. Berarti pula pilihan untuk tidak memilih saya itu membuat pihak lain kalah dan pihak yang berkuasa sekarang menang. Berarti kondisi sekarang adalah hasil pilihan saya (untuk tidak memilih) juga. Sekali lagi sudah terima saja, hadapai, kritisi, luruskan, dan ketika saatnya tiba jangan mengulangi kesalahan yang sama.
Tapi dulu tahun 1998 kenapa sampeyan koq ikut-ikutan naik ke atap gedung DPR untuk menggulingkan kekuasaan? Mungkin ada yang tanya itu ke saya. Kalau ini kasusnya beda lagi. Saat itu kita tidak diberi kesempatan memilih. Si penguasa pun sudah waktunya turun tapi tetep gak mau turun juga. Nah, kalau yang begini memang sepatutnya untuk diturunkan secara paksa! Mereka yang menghalangi kebebasan untuk memilih selayaknya untuk digulingkan.
Cuma kalau kondisinya kayak dulu lagi sepertinya saya ndak ikut deh nginep-nginepan lagi. Asal tahu aja yah, nasi bungkus jatah pendemonya gak enak! :D

Kantor kakak saya sempat dikagetkan dengan jawaban pintar seorang calon pegawai barunya. Jadi si orang dimaksud ini melamar posisi yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Pertanyaan pun muncul dari pihak kantor mengenai alasannya untuk tidak bekerja sesuai bidangnya.

Penanya: “kenapa kamu memilih untuk tidak bekerja di bidang pendidikan kamu?”

Calon pegawai: “Saya itu sebenarnya bisa dibilang salah mengambil jurusan, karena ketika sudah mulai kuliah saya baru menyadari bahawa saya tidak cocok di bidang kuliah saya itu, makanya setelah lulus saya mencoba mengikuti passion saya lagi!”

Penanya: “Kalau memang dulu salah ambil jurusan kenapa tidak berhenti saja dari awal dan ganti jurusan?”

Calon pegawai: “Dulu ketika masuk kuliah itu, saya lah yang memilih jurusannya. Dan sebagai orang dewasa saya harus belajar bertanggung jawab untuk menyelesaikan apa yang sudah saya pilih. Sambil terus belajar hal yang menarik minat saya!

Nah tuh dia tuh jawaban yang menarik. Saya sendiri kepikiran untuk nyontek jawaban itu kalau suatu saat nanti di wawancara kerja dengan pertanyaan itu lagi. Bertanggung jawab terhadap apa yang sudah kita pilih! Begitu pernyataan besarnya!

Rasanya memang sulit untuk tetap pada satu hal yang sudah kita pilih dan ternyata tidak mengenakan. Lebih mudah rasanya kalau kita langsung meninggalkan pilihan kita di detik itu juga dan beralih ke pilihan yang lain. Lihat saja contoh yang muncul belakangan ini ketika kita (termasuk saya) tidak puas dengan pemerintahan yang sekarang. Mulai ramai lagi aksi-aksi yang ingin segera mengganti.

Bisa jadi ini seratus hari terakhirnya! kata salah satu pengamat di televisi.

Sekali lagi, memang mudah untuk memalingkan muka! Tapi berusaha menghadapi pilihan yang salah itu perkara lain. Toh yang dimaksud di atas itu terpilih dari hasil pemilihan yang legitimate (walaupun unsure legitimate ini masih bisa dipertanyakan, tapi secara garis besar masih bisa ditoleransi). Lah yang milih elo juga koq, kenapa sekarang protes? Sudah terima saja, hadapai, kritisi, luruskan, dan ketika saatnya tiba jangan mengulangi kesalahan yang sama.

Tapi dulu saya ndak milih yang itu! Kata sebagian orang. Memang situ memilih yang lain, tapi kalah khan? Kenapa bisa kalah? Kekalahan pilihan kalian menjadikannya terpilih kembali. Ini berarti sama saja, “pilihan kalian untuk kalah lah” yang membentuk kondisi sekarang. Secara tidak langsung konsekuensi kekalahan itu merupakan pilihan. Sudah terima saja, hadapai, kritisi, luruskan, dan ketika saatnya tiba jangan mengulangi kesalahan yang sama.

Lah saya mah waktu itu memang gak milih (kalau yang ini alasan saya pribadi)! Sama saja! Dulu waktu disuruh milih saya dengan lantang teriak bahwa “tidak memilih juga sebuah pilihan”. Berarti pula pilihan untuk tidak memilih saya itu membuat pihak lain kalah dan pihak yang berkuasa sekarang menang. Berarti kondisi sekarang adalah hasil pilihan saya (untuk tidak memilih) juga. Sekali lagi sudah terima saja, hadapai, kritisi, luruskan, dan ketika saatnya tiba jangan mengulangi kesalahan yang sama.

Tapi dulu tahun 1998 kenapa sampeyan koq ikut-ikutan naik ke atap gedung DPR untuk menggulingkan kekuasaan? Mungkin ada yang tanya itu ke saya. Kalau ini kasusnya beda lagi. Saat itu kita tidak diberi kesempatan memilih. Si penguasa pun sudah waktunya turun tapi tetep gak mau turun juga. Nah, kalau yang begini memang sepatutnya untuk diturunkan secara paksa! Mereka yang menghalangi kebebasan untuk memilih selayaknya untuk digulingkan.

Cuma kalau kondisinya kayak dulu lagi sepertinya saya ndak ikut deh nginep-nginepan lagi. Asal tahu aja yah, nasi bungkus jatah pendemonya gak enak! :D

Popularity: 14% [?]

44 Comments »

  • fanz said:

    emank rumit sih..
    jadi bingung mo komen apa..

  • gardino (author) said:

    @fanz: ndak memberikan komen alias diam juga sudah dianggap sebuah komentar loh! :D

  • frozzy said:

    setip pilihan memang tidak selalu berbuah manis. tinggal kita mo menyikapinya bagamana.. tetap bertahan demi sebuah pelajaran hidup atau pergi meninggalkan dan selamanya jadi pengecut…

  • Didien® said:

    jawaban si calon pegawai itu mmg cukup bijak…tp apakah byk org seperti dia ya skrg?
    salam, ^_^

  • Zico Alviandri said:

    Walah… Aku termasuk orang yang pindah kuliah karena merasa salah masuk jurusan nih :D Dari matematika ke teknik informatika. :D

    Btw, thx 4 sharing. :)

  • belajar blog said:

    jawaban yang bijak memang seharusnya kita lebih dewasa dalam menyikapi pilihan…sama saya juga ngak milih kalau ada president mengkampanyekan Indonesia 24 jam free koneksi online dah pasti saja jadi jurkamp hahahahahahah :)

  • haris ahmad said:

    selamat sore bang

  • tuteh said:

    Pusing abis2an… hehehe.
    Tapi ambil hikmahnyha aja… meski untuk milih ulang kita mesti nunggu 5 tahun lagie :D

  • d3s said:

    ikutan nyontek ya om… hi3x soalnya aku juga ngerasa salah jurusan neh…

  • quinie said:

    kalo menurut gua, apapun keputusan yang kita pilih yang penting kita bisa mempertanggungjawabkan semua konsekuensinya

  • sms said:

    apa yang sudah terjadi, bisa jadi pelajaran saja ah. duh, spam protectionnya pake matematika… untung cuman tambah2an :)

  • sobatsehat said:

    bertanggung jwab slah satu ciri orang berhasil. sepakat sama mbak quinie

  • -d- said:

    kyknya gw salah jurusan jg deh :) p

  • -d- said:

    kyknya gw salah jurusan jg deh :(

  • ndop said:

    tapi memang nggak enak kalau salah jurusan… saya mengalami lo…

  • boyin said:

    saya termasuk anak penurut..disuruh kuliah ini manut aja dan ternyata cocok ama saya dan jadi karir saya sekarang..

  • yunaelis said:

    saia jg ijin contek ya??
    bole kn?? mumpung mo nglamar pekerjaan.. :D

  • madix said:

    AMAZING ANSWER!!!!

  • DV said:

    Sorry OOT, tapi knapa ya blog ini dianggap spam? Padahal baik2 saja…

  • gardino (author) said:

    @DV: Iya nih gak tahu mas…mungkin saya kelewat bawel kali yah komen disana sini. Dan ekstensi domain .info (yang murahan itu) banyak digunakan para spammer.

    Saya udah mengajukan keberatan ke Akismet. Dan disyaratkan minimal 20 blog menyatakan saya tidak nyepam, dengan cara melepaskan saya dari folder spam.

    Kalau pencekalan dari akismet tidak cabut juga, saya akan bentuk tim 8. :D

  • heru said:

    keren2 bisa dijadiin refrensi neh :)

  • Hariez said:

    semua keputusan yang kita ambil, paling tidak kita bisa mempertanggung jawabkan apa yang telah kita ambil *tumben bener komen gw* :mrgreen:

    selamat malam selamat beristirahat Om :D

    -salam- ^_^

  • belajar blog said:

    buset…jawabannya jujur polos dan apa adanya
    susah buat kita tiru kalo ga punya pola pikir seperti dia

  • Action Figure Toy said:

    mantap dah
    salut ama tuh orang
    contoh berpikir logis+dewasa…

  • Wong Jalur said:

    Salam hangat serta selamat iedul adha…

  • ajir said:

    minal aidin walfaidzin mohon maaf lahir dan batien..
    met idul adha sob.. :D

  • gadgetboi said:

    wah lumayan nich untuk referensi … hehehehe

  • embun777 said:

    Aku suka jwb an yg berani dan tegas pasang dada ! yah memang itu pilihan saya… dst.. *bukan type pengecut yg suka cari aman.. hee..hee..

    btw. komen sdh saya keluarin dari kurungan.. semoga gak ketangkep satpam lagi.

  • narsis said:

    mantap dah tu orang, salut..

    met idul adha ya..

  • thepenks said:

    betul itu…jangan kita pilih enaknya saja.. apa yang kita pilih memang harus dipertanggung jawabkan..

  • Khery Sudeska said:

    Refleksi yang bagus, Kawan. Penting untuk renungan kita semua :)

  • rumah blogger said:

    memang harus bertanggung jawab donk, apalagi anak orang sampai….hehheeee (nggak nyambung nic)

  • sabirinnet said:

    wah bisa ditiru apabila dapet pertanyaan saat melamar nanti. nice info mas thanx

  • haris ahmad said:

    selamat hari raya idul adha

  • Ifa said:

    kalau memilih untuk tidak menyelesaikan kuliahnya bertanggung jawab juga ndak ya? :D
    eh trus udah dapat 20 blognya?

  • Yessi said:

    saya juga waktu itu ndak ikut memilih.. hehe…karena tidak kebagian kartu..
    dan sekarang saya juga kurang mengerti apa yang sedang terjadi..

    nasi bungkusnya ga enak ya? honornya dapet berapa? 50rb atau 25rb? :P xixixixiixix…

  • bundadontworry said:

    kalau saya memilih atau tdk memilih, tetap saja memilih mengunjungi blognya Mas Krim ini, krm enak dibaca dan selalu membawa hal2 baru dan segar bagi saya.
    terima kasih sudah berbagi Mas Krim.
    salam.

  • thedollarcorner said:

    kunjungan balik nie mas,
    wah… saya juga mau pinjam jawaban itu ah.. memang betul bahwa piihan kita adalah tanggung jawab kita, dan seandainya hasil dari pilihan sudah ketahuan sejak awal, maka itu bukan lagi menjadi pilihan…karena pilihan ada dari 2 hal yang belum pasti :)

  • mpokb said:

    ooh… jadi anakkrim termasuk yang manjat2 atap gedong ijo itu tho? setelah 10 tahun, ternyata belum beres juga yak.. ah, tapi kalo disuruh balik lagi seperti ke sebelum tahun ‘99, saya nggak mau…

  • macangadungan said:

    tetep masih norak ngeliat layout mu XDDDD

    keren banget jawaban tu orang, untungnya aku bukan termasuk korban salah jurusan.
    tapi waktu nyoblos salah pilih kayaknya, sebenernya mau pilih yang lain, tapi yang jadi cawapres-nya itu loh… mengerikan… tidak pernah terbukti bersalah, tp juga tidak pernah terbukti tidak bersalah.

    mendingan yg sekarang didukung aja dulu. didoain… biar bisa memerintah dengan bijak dan adil. amin

  • nonadita said:

    Saya sih nggak salah jurusan, karena kuliah di bidang yang saya memang minati. Meskipun akhirnya toh kerja di bidang yg berkaitan dengan hobi, agak melenceng dari pendidikan :p

  • Blogger Ingusan said:

    Kalo ditawarin nasi bungkus dgn menu baru gimana tuh? :-D

  • komuter said:

    mampir lagi ah….

  • iLLa said:

    seep. menyelesaikan apa yg sudah dimulai. karena itu bagian dari resiko setiap pilihan kita. sepakat skali sm ini ^^

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.