Kenapa kamu mencintainya?
Harus diakui tidak mudah untuk mencari jawaban ideal dari pertanyaan macam itu. Sebab, masing-masing dari kita punya jawaban masing-masing yang kita anggap sebagai alasan paling ideal dalam hal mencari atau mempertahankan pasangan.
Nah, beberapa waktu kemarin saya berkesempatan mendengarkan cerita dari seorang ibu yang sudah berusia lanjut mengenai suaminya. Kisahnya yang menarik itu membuat saya berpikir kembali mengenai jawaban ideal dari pertanyaan kenapa saya mencintai pasangan saya.
Aku mencintainya karena kekayaannya
Inikah alasan ibu itu mencintai sang suami? Jabatannya sebagai seorang petinggi militer memang tidak membuat wanita tersebut sebagai kalangan orang miskin. Namun kalau dibilang sebagai orang kaya raya rasanya tidak juga. Apalagi sang suami sering disorot sebagai salah satu orang yang berintegritas dan memilih hidup sederhana. Ditambah lagi ibu tersebut setia mendampingi sang suami sekian lama meskipun statusnya sudah sebagai purnawirawan alias pensiunan yang hidup dari uang pensiun. Jadi jelas harta bukan alasan ibu itu mencintai sang suami.
Aku mencintainya karena fisiknya
Okay, mungkin jawaban ini signifikan ketika suaminya masih menjabat sebagai perwira tinggi di masa mudanya dulu. Berbadan tegap nan bugar dengan potongan rambut rapi jelas daya tarik tersendiri. Tapi toh menurut cerita ibu ini, di usia senjanya, sang suami sudah tidak menampakan kelebihan fisik seperti dulu lagi. Bahkan ia harus mengalami beberpa kali sakit yang membuatnya harus dibantu jika ingin banyak bergerak. Kalau sang ibu mencintai suaminya karena alasan ini, jelas ia sudah meninggalkannya dari dulu. Tapi nyatanya tidak.
Aku mencintainya karena kepintarannya
Bisa jadi laki-laki itu cerdas, mengingat ia pernah menduduki posisi penting. Tapi toh pertambahan usia dan sakit yang didera memaksanya untuk kehilangan beberapa kemampuannya. Bahkan sekedar untuk memakai celana atau mengancingkan baju, kadang ia lupa cara melakukannya. Apa lantas ibu ini meninggalkannya? Tidak!
Aku mencintainya karena kebaikannya
Dia gak ganteng, kaya juga nggak, tapi yang penting hatinya baik sholeh pulak. Sering banget saya dengar itu dari kawan saya. But, you know what? Saya dapat sudut cerita beda dari si ibu. Sifat pelupa dan hilang orientasi dari sang suami makin parah dari waktu ke waktu. Tak jarang sang suami pun lupa sedang berhadapan dengan siapa. Sang ibu bercerita pernah suatu kali ia mengingatkan sang suami yang hendak sholat, dan mengenakan kain sarung yang sudah terkena air seninya sendiri, karena terkencing d luar kontrolnya. Begini jawaban suaminya:
“Kamu berani-beraninya dengan saya! Apa tidak tahu kamu sedang berhadapan dengan siapa?” katanya dengan mata mendelik dan nada membentak.
“Jangan-jangan kamu yang lupa saya siapa? Aku ini istrimu, bukan bawahan mu yang dulu itu loh…” ujar sang ibu sambil katanya tetap tersenyum pada suaminya. Sementara suaminya akhirnya cuma terdiam.
Ia pun menyatakan sempat beberapa kali sang suami lupa bahwa ia sedang dengan istrinya. Dan kejadian memarahi layaknya anak buahnya dulu juga kerap terjadi. Dan bayangkan sulitnya menyuruh orang yang sudah di dera penyakit macam begini untuk sholat tepat waktu, sementara orientasinya pun sudah tidak tepat. Dalam kondisi itu ia tidak lagi sebaik dan seramah dulu, syarat-syarat kesholehan pun mulai luntur darinya. Apa ibu itu meninggalkannya? Tidak! Saya jadi mengamini kesetiaan ibu ini karena bahkan Allah pun tidak pernah menghukum umatnya yang tidur dan lupa, iya khan?
Aku mencintainya karena ia setia dan ia mencintaiku
Ini cerita sang ibu yang menurut saya paling menarik. Banyak dari kita yang menganggap hal lain tidak penting, sejauh pasangan kita setia dan mencintai kita balik. Tapi tidak dengan ibu ini, yang pada satu waktu mengalami perbincangan macam begini dengan suaminya.
“Namanya siapa toh Jeng?” sang suami yang sudah pikun akut bertanya pada istrinya yang baru selesai bersolek selesai mandi.
“Oh…saya neni…kenapa toh tanya-tanya nama saya?” Si ibu yang paham benar kalau sang suami sedang hilang orientasi dan tidak mengenali istrinya sendiri di rumah, memberikan nama palsu kepada suaminya itu.
“Anu…Jeng ini cantik sekali…” kata sang suami dengan genitnya tanpa sedikit pun mengenali istrinya.
“Bapak godain saya ya? Genit ini, memang bapak tidak punya istri?” tanya si ibu dengan nada jahil dan menyelidik.
“Punya….tapi…Ssssstttt…” jari telunjuknya menetupi mulutnya “tapi jangan bilang-bilang istri saya ya…”
Okay, apa itu bisa dikategorikan sebagai selingkuh dan tidak setia, mengingat istrinya sendiri yang diselingkuhi? Bisa iya bisa tidak. Tapi toh terlepas bahwa ia pikun dan hilang orientasi, bapak itu sudah menggoda “orang lain” selain istrinya (walaupun notabene itu istrinya yang ia lupakan). Berarti ia saat itu bukan lagi pria setia, apa kemudian ibu itu meninggalkannya?
Jawabannya tidak kawan. Dan pergulatan sakit dan pikun sang suami yang macam begitu dialami ibu itu bukan hitungan bulan. Melainkan hitungan tahun! Namun si ibu tetap setia. Bahkan diakhir cerita ia mengaku puas sudah menemai dan “mengurusi” suaminya yang akhirnya dipanggil lebih dulu oleh Sang Kuasa.
Lantas kenapa ibu itu tetap setia dan mencintainya? Saya sendiri tidak menanyakannya. Tapi kalau boleh mengambil kesimpulan serampangan sendiri, saya pikir ini yang dinamakan cinta tak bersyarat. Si ibu mencintai suaminya, ya semudah karena si ibu mencintainya tidak perlu syarat yang lain. Apa itu yang dinamakan cinta sejati? Saya sendiri juga belum paham.
PS: Thanks to Pak De Satrio yang sudah mengenalkan kami kepada ibunya tercinta.
Popularity: 1%
aku mencintainya karena dia memang mencintaiku
kunjungan balik nich sob
gardino Reply:
October 30th, 2011 at 10:05 pm
Dalam kasus di atas ada momen-momen dimana sang suami seolah sudah tidak lagi menyayanginya loh…namanya juga sudah pikun…apa ini jadi alasan untuk meninggalkan pasangan kita?
piglet pernah bertanya, sya terjemahin gini, “mengeja cinta itu sperti apa?”, pooh menjawab, “cinta bukan dieja, tapi dirasa.” jadi pasti ada perasaan yg kekal membuat kita mencintainya, bukan yg terlihat
gardino Reply:
October 30th, 2011 at 10:06 pm
Mungkin memang tidak akan pernah bisa dieja
waaahh,, kalau aku gak tahu juga neh kenapa aku suka sama seseorang. Lagian belom punya suami juga,, hehehe
gardino Reply:
October 30th, 2011 at 10:07 pm
Gak berarti harus “sudah” loh…namanya karena kadang kita sudah menetapkan lebih dulu si kriteria sebelum si jodohnya datang
aku mencintainya karena ia mau mencintaiku, sesimpel itu, gak ribet-ribet. hehe. itu kalo saya loh.
gardino Reply:
October 30th, 2011 at 10:08 pm
Nah seperti jawaban saya juga di komen atas, apa kalau ia sudah tidak mencintai kita lagi (karena kepikunannya, dsb) lantas kita boleh meninggalkannya?
memang benar sob kalau menjawab pertanyaan diatas tidak semudah yang dibayangkan…
tapi coba anda bayangkan ketika Anda mencintai orang yang sangat mencintai Anda…
tidak bisa saya jawab, tapi saya hanya bisa merasakannya..
gardino Reply:
October 30th, 2011 at 11:08 pm
Sepakat sob, tapi bahkan ibu di atas tidak mengharapkan untuk di cinta balik. Tak ada tuntutan pada suami yang sudah pikun dan hilang orientasi untuk bisa “bermesraan” dan menjalin kasih.
cinta. topik asik nih. saya mencintai nya karna saya mencitai mu ya allah. wihh lebih mantap kan
gardino Reply:
October 31st, 2011 at 8:14 am
Bisa jadi demikian, saya pun belum paham sepenuhnya
Kata istriku, “Bertemu adalah kesempatan, mencintai adalah pilihan…” Barangkali benar begitu…
gardino Reply:
October 31st, 2011 at 8:15 am
Weeeh…istilahnya bagus tuh…saya suka
Dlm kasus diatas mungkin ibu itu mencintai karena telah biasa mengenalnya (tresno jalaran soko kulino)
gardino Reply:
October 31st, 2011 at 8:16 am
Istilah lama yang masih oke ya untuk dipakai saat ini
salut buat kesetiaan si ibu. semoga banyak pengikut si ibu
gardino Reply:
October 31st, 2011 at 9:20 am
Mudah-mudahan demikian pak…
Berbagai alasan yang diungkapkan seseorang untuk menjawab pertannyaan di atas. Tetapi tanpa disadari cinta dan sayang itu tumbuh dengan sendirinya. Mungkin kita yang menjalani juga g’ akan pernah paham atas apa yang dirasakannya,, kepuasankah?? kebahagiaankah bila hidup bersama?? Atau yang lain. Yang jelas cinta itu tumbuh dengan sendirinya tanpa ada paksaan.
gardino Reply:
October 31st, 2011 at 9:45 am
yup saya sendiri pun belum paham
kalo kata org bijak
cinta yg sejati itu cinta yg “walaupun”
bukan cinta yang “karena”
gardino Reply:
October 31st, 2011 at 10:17 am
Sepertinya satu kalimat bijak itu menggambarkan semua maksud dan tujuan posting ini
Cinta saya tercurah buat istri dan buah hati saya ma. he . . .
dan yang paling utama cinta kepada kedua orang tua tentunya.
gardino Reply:
October 31st, 2011 at 9:46 pm
Kalau gitu kita sama mas…
Udah 2x denger cerita ini, tetep aja terharu…hiks..hiks…
gardino Reply:
October 31st, 2011 at 9:46 pm
Mudah-mudahan kita berdua bisa begitu sampai kakek nenek ya bunda
Nah jadi begini, banyak yang terjeblos saat menjejakkan pernikahan. Katanya cuma tuntutan umur yang semakin menua. jadi belum sempat menikmati masa tua, 5 tahun usai pernikahan ucapan ‘miring’ pun terlontarkan. Sedih ya, saya takutnya malah begitu
gardino Reply:
October 31st, 2011 at 9:47 pm
mudahan-mudahan kita terhindar dari yang demikian mas…
waw..so touchy!!
ijin share di FB saya mas..thanks!
gardino Reply:
October 31st, 2011 at 9:48 pm
Apalagi lagi kalau denger langsung dari yang menceritakan loh…diceritakan dengan cara yang lucu tapi beneran menyentuh…
wah salut sama ibunya,
November 1st, 2011 at 11:02 amaku mencintaimu sebagai sebuah eksistensi kehidupan di jagat raya ini
cinta memang kadang tidak bisa dimengerti…
November 1st, 2011 at 2:04 pmBerarti itu cinta mati namanya, Mas. Cinta yang tidak akan hilang sampai maut menjeput Ibu itu.
November 1st, 2011 at 9:42 pmMencintai seharusnya tak butuh alasan. Namun buat saya mencintai juga tak berarti harus menerima bila pasangan kelewatan. Biarlah cinta itu dinikmati sendiri saja bila pasangan tak bisa menghargai… ehehe…
November 2nd, 2011 at 8:59 amsaya memilih cinta ibu itu cinta yang tak bersyarat
November 2nd, 2011 at 2:28 pmSalut dengan cerita yang sangat menyetuh hati, semoga aku bisa mencintai istriku sama dengan ibu itu mencintai suaminya tanpa syarat. Mungkin itu yang di sebut cinta sejati, dibawa sampai mati.
November 2nd, 2011 at 3:44 pmitu dia mas, cinta terlalu kompleks dan terlalu simple kalau hanya dianalisis dalam beberapa kata atau sebab. kalau menurut saya cinta itu bisa juga karena akumulasi perasaan yang sudah dialami oleh seseorang, layaknya benci dan dendam, cinta pun kadang kadang sulit dijelaskan kalau sudah mengakar. bagaimana mungkin si istri bertahan karena suami selingkuh, bagaimana mungkin istri bertahan padahal suaminya malas dan miskin. mungkin itu terjadi karena waktu … #halah gomong apaan sih gw ini
November 3rd, 2011 at 5:05 amWoww.. bagus banget ceritanya Mas Reza.. menyentuh sekali..
November 5th, 2011 at 2:39 pmOya ngomong-ngomong tampilan blognya mirip sekali dengan halaman depan detikcom, saya sampe kaget kirain salan nekan link.. bagus banget, saya suka..
November 5th, 2011 at 2:40 pmSaluuut berat sama si Ibu..
Cintanya tulus.
November 8th, 2011 at 1:47 pmgan gmn neh ane pas nembak cwe. .. ps ditanya knpa km suka sma aq. .. bngung ane jwb gan.. plis ksih pncrahan’a gan….
November 11th, 2011 at 10:10 amcinta ya cinta..
satu kata itu saja sudah mengartikan segalanya…
haduuh.. berasa di detik.com.. hehe
November 11th, 2011 at 9:44 pmmoral of the story dari cerita yang terakhir…
pria… dimanapun dia, berapapun usianya, penyakit apapun yang dideritanya, bahwa wanita… adalah tetap yang dibutuhkannya
hehehehe…
November 12th, 2011 at 11:35 amcinta bukan segalanya, tapi tanpa cinta maka segalanya tak akan ada…
November 17th, 2011 at 2:47 pmsama kayak… uang bukanlah segalanya, tapi tanpa uang kita tidak bisa beli apa-apa termasuk cinta, lha wong nikah aja butuh mas kawien kok…
Nice Story…
November 27th, 2011 at 8:11 pmDan berharap menemukan sosok wanita yang mau mencintaiku karena dia memang mencintaiku, tanpa ada alasan apapun
Pertanyaan yang sederhana namun seringkali bingung memberikan jawabannya…
December 8th, 2011 at 3:15 amsaya cinta dia dan jangan lo tanya kenapa..
December 30th, 2011 at 12:59 pmkenapa harus mempertanyakan cinta??? bukannya cinta adlah kata sifat bukan kata kerja….
January 19th, 2012 at 4:57 pm